Minggu, 04 Desember 2011

perjuangan hidup

Cerita ini adalah kisah nyata…dimana perjalanan hidup ini ditulis oleh seorang istri dalam sebuah laptopnya.

Bacalah semoga kisah nyata ini menjadi pelajaran bagi kita semua.

============ ========= ========= ========= ========= ========= ========= =
Cinta itu butuh kesabaran…

Sampai dimanakah kita harus bersabar menanti cinta kita
???

************ ********* ********* ********* *********
********* **

Hari itu,,,aku dengan nya berkomitmen untuk menjaga cinta
kita..

Aku menjadi perempuan yg paling bahagia…..

Pernikahan kami sederhana tapi sangat meriah…..

Ia menjadi pria yang sangat romantisan pada waktu itu.

Menikah dengan seorang pria yang shaleh, pintar, tampan
& mapan pula

Ketika kami pacaran dia sudah sukses dalam karir nya.

Kami berbulan madu di tanah suci,,itu janjinya ketika kami
berpacaran

Setelah menikah aku mengajaknya untuk umroh ke tanah
suci….

Aku sangat bahagia dengan nya,,diya sangat memanjakan
aku…. Sangat
terlihat rasa cinta dan sayangnya pada ku.

Banyak orang yang bilang,kami pasangan yang serasi. Sangat
terlihat sekali
bagaimana suamiku memanjakanku. Aku bahagia menikah
dengannya.

************ ********* ********* ********* *********
********* *********
********* *******

5 Tahun sudah kami menikah, sangat tak terasa waktu
berjalan, walaupun kami
hanya berdua saja.

Karena sampai saat ini aku belum bisa memberikannya seorang
malaikat kecil
di tengah keharmonisan rumah tangga kami.

Karena dia anak lelaki satu – satunya dalam keluarga
nya,,jadi aku harus
berusaha untuk dapat meneruskan generasi nya…

Alhamdulillah suamiku mendukung ku…. Ia mengaggap Allah
belum mempercayai
kami untuk menjaga titipan NYA.

Tapi keluarga nya mulai resah,, Dari awal kami menikah ibu
& adiknya tidak
menyukaiku,, aku sering mendapat perlakuan yang tidak
menyenangkan dari
mereka,,tapi aku menutupi dari suami ku…..

didepan suami ku,,mereka sangat baik pada ku,,tapi
dibelakang suami ku,,aku
dihina – hina oleh mereka…

Pernah suatu ketika, 1 tahun usia pernikahan kami, suamiku
mengalami
kecelakaan,, , mobilnya hancur

Alhamdulillah suami ku selamat dari maut yang hampir
membuat ku menjadi
seorang janda.

Ia dirawat dirumah sakit,,pada saat dia belum sadarkan
diri,,aku selalu
menemaninya siang & malam, kubacakan ayat – ayat suci
Al – Qur’an,aku sibuk
bolak – balik rumah sakit dan tempat aku melakukan
aktivitas sosialku, aku
sibuk mengurus suamiku yang sakit karean kecelakaan.

Ketika aku kembali ke rumah sakit setelah dari rumah
kami,,aku melihat
didalam kamarnya ada ibu, adik – adiknya dan teman – teman
suamiku, dan satu
lagi aku melilhat seorang wanita yg sangat akrab dengan
ibunya. Mereka
tertawa menghibur suamiku.

Alhamdulillah suamiku ternyata sudah sadar, aku menangis
ketika melihat
suami ku sudah sadar,,tapi aku tak boleh sedih di
depannya.

Kubuka pintu yg tertutup rapat itu,sambil mengatakan
“Assalammu’alaikum”
mereka menjawab salam ku. Aku berdiam sejenak di depan
pintu dan mereka
semua melihatku,,, suamiku menatapku penuh manja,,mungkin
ia kangen padaku
karena sudah 5 hari mata nya selalu tertutup. Tangannya
melambai,,mengisyar
atkan aku untuk memegang tangannya yg erat. Setelah aku
menghampirinya, ku
cium tangannya sambil berkata “Assalammu’alaikum” , ia pun
menjawab salam ku
dengan suaranya yg lirih tapi penuh dengan cinta. Aku pun
senyum melihat
wajahnya.
Ibu nya lalu berbicara sama aku …

“Fis, kenalakan ini Desi teman Fikri”

Aku teringat cerita dari suamiku bahwa teman baiknya pernah
mencintainya,
perempuan itu bernama Desi, dan diya sangat akrab dengan
keluarga suamiku.
Dan akhirnya aku bertemu dengan orangnya juga.
Aku pun langsung berjabat tangan dengannya, tak banyak aku
biacara di dalam
ruangan,,aku tak mengerti apa yg mereka bicarakan.

Aku sibuk membersihkan & mengobati luka – luka di
kepala suamiku,,,baru
sebentar aku membersihkan mukanya,,tiba – tiba adik ipar ku
yg bernama Dian
mengajakku keluar,ia minta ditemani ke kantin. Dan suamiku
pun
mengijinkannya. Aku pun menemaninya.

Tapi ketika di luar adik ipar ku berkata ” lebih baik kau
pulang saja ” Ada
kami yg menjaga abang disini. Kau istirahat saja. ”

Aku pun tak diperbolehkan berpamitan dengan suamiku dengan
alasan abang
harus banyak beristirahat, karena sikologisnya masih
labil,, Aku berdebat
dengannya mengapa aku tidak boleh pamitan pada suamiku,
tapi tiba – tiba ibu
mertuaku datang menghampiriku dan ia mengatakan hal yg
sama, ia akan memberi
alsan pada suamiku mengapa aku pulang tak pamitan pada nya,
toj suamiku
selalu menurut apa kata ibunya, baik ibunya salah suamiku
tetap saja
membenarkannya, akhirnya aku pun pergi meninggalkan rumah
sakit itu dengan
linangan air mata. Sejak saat itu aku tidak pernah
diijinkan menjenguk
suamiku sampai ia kembali dari rumah sakit. Dan aku hanya
bisa menangis dlm
kesendirianku. Menangis mengapa mereka sangat membenciku.

************ ********* ********* ********* *********
********* *********
********* *******

Hari itu, aku menangis tanpa sebab, yang ada di benakku aku
takut
kehilangannya, aku takut cintanya dibagi denagn yang lain.
Pagi itu, pada
saat aku membersihakn pekarang rumah kami, suamiku
memanggil ku ke taman
belakang, ia baru aja selesai sarapan, ia mengajakku duduk
di ayunan favorit
kami, sambil melihat ikan – ikan yang bertaburan di kolam
air mancur itu.
Aku bertanya ” Ada apa kamu memanggil ku ?”

Ia berkata ” Besok aku akan menjenguk keluargaku di Sabang


Aku menjawab ” Ia sayang aku tahu, aku sudah mengemasi
barang – barang kamu
di travel bag dan kamu sudah pegang tiket bukan ?”

“Ya tapi aku tak akan lama disana, cuma 3 minggu aku
disana, aku juga sdh
lama tidak bertemu dengan keluarga besarku sejak kita
menikah dan aku kan
pulang dengan mama ku ” Jawab nya tegas

“Mengapa baru bicara, aku pikir hanya seminggu saja kamu
disana ?” tanya ku
balik kepada nya penuh dengan rasa penasaran dan sedikit
rasa kecewa karena
ia baru memberitahu rencana kepulanggannya itu, padahal aku
bersusah payah
mencarikan tiket pesawat untuknya.

” Mama minta aku yang menemani nya saat pulang nanti ”
jawab nya tegas

” Sekarang aku ingin seharian dengan kamu, karena nanti
kita 3 minggu tidak
bertemu, ya kan ?” lanjut nya lagi sambil memeluk ku dan
mencium keningku.
Hatiku sedih, dengan keputusannya, tapi tak boleh aku
tunjukkan pada nya.
Bahagianya aku, dimanja dengan suami yang penuh dengan rasa
sayang &
cintanya.
Walau terkadang ia bersikap kurang adil terhadapku.

Aku hanya bisa tersenyum saja, padahal aku ingin bersama
suamiku, tapi
karena keluarga nya tidak menyukaiku hanya karena mereka
cemburu pada ku
karena suamiku sangat sayang pada ku, aku memutuskan agar
ia saja yg pergi,
dan kami juga harus berhemat dalam pengeluaran anggaran
rumah tangga kami.
Karena ini acara sakral bagi keluarganya. Jadi seluruh
keluarga nya harus
komplit, aku pun tak diperdulikan oleh keluarganya harus
datang atau tidak,
tidak hadir justru membuat mereka sangat senang, aku pun
tak mau membuat
riuh keluarga ini.

Malam sebelum kepergiannya, aku menangis sambil membereskan
keperluannya
yang akan dibawa ke Sabang, ia menatapku dan menghapus
airmata yang jatuh
dipipiku lalu aku peluk erat dirinya, hati ini bergumam
seakan terjadi
sesuatu,,tapi aku tidak tahu apa yang akan terjadi. Aku
hanya bisa menangis
karena akan ditinggal pergi olehnya.

Aku tidak pernah di tinggal pergi selama ini, karena kami
selalu bersama -
sama kemana pun ia pergi.

Apa mungkin aku sedih karena aku sendirian tidak punya
teman, hanya pembantu
saja teman ngobrolku.

Hati ini sedih akan di tinggal pergi oleh nya.

Sampai keesokan hari nya, aku menangis..menangisi
kepergiannya.
Aku tak tahu mengapa sesedih ini, perasaanku tak enak, tapi
aku tak boleh
berburuk sangka. Aku harus percaya apada suamiku. Dia pasti
akan selalu
menelpon ku.

************ ********* ********* ********* *********
********* *********
********* ********* ********

Berjauhan dengan suamiku, sangat tidak nyaman, aku merasa
sendiri. Untunglah
aku mempunyai kesibukan sebagai seorang aktivis, jadi aku
tak terlalu
kesepian di tinggal pergi ke Sabang.
Saat kami berhubungan jarak jauh, komunikasi kami
buruk,saat ia di sana aku
pun jatuh sakit…rahimku sakit sekali seperti dililit oleh
tali,,,tak tahan
aku menhan rasa sakit dirahimku ini,sampai – sampai aku
mengalami
pendarahan,, aku dilarikan ke rumah sakit oleh adik laki -
lakiku yang
kebetulan menemaniku disana. Dokter memvonis aku terkena
kanker mulut rahim
stdium 3…. Aku menangis,,apa yang bisa aku banggakan
lagi,,mertuaku akan
semakin menghinaku,, ,suami ku yang malang,,yang berharap
akan punya
keturunan dari rahimku… Aku tak bisa memberikannya
keturunan. Dan aku
hanya memeluk adikku.

Aku kangen pada suamiku, aku menunggu ia pulang,,kapan ia
pulang, aku tak
tahu..

Sementara suamiku disana,,aku tidak tahu mengapa ia selalu
marah – marah
jika menelponku,, bagaimana aku akan cerita kondisiku jika
ia selalu marah -
marah terhadapku,,

Lebih baik aku tutupi dulu,,dan aku juga tak mau membuatnya
khawatir selama
ia berada di Sabang.
Lebih baik nanti saja ketika ia sudah pulang dari Sabang,
aku akan cerita
pada nya.
Setiap hari aku menanti suami ku pulang, hari demi hari aku
hitung….

Sudah 3 minggu suamiku di Sabang, malam itu ketika aku
sedang melihat foto -
f oto kami, ponselku berbunyi, menandakan ada sms yang
masuk.

Ku buka di inbox ponselku, ternayta dari suamiku yang sms,
ia menulis “aku
sudah beli tiket untuk pulang, aku pulang nya satu hari
lagi, aku aku
kabarin lagi”.

Hanya itu saja yang diinfokannya, aku ingin marah, tapi aku
pendam saja ego
yang tidak baik ini. Hari yg aku tunggu pun tiba,,aku
menantinya di rumah.
Sebagai seorang istri, aku pun berdandan yang cantik dan
memakai parfum
kesukaannya untuk menyambut suamiku pulang, dan aku akan
menyelesaikan
masalah komunikasi kami yg buruk akhir – akhir ini.

Bel pun berbunyi, kubuka kan pintu untuknya ia pun mengucap
salam, sebelum
masuk aku pegang tangannya ke depan teras, ia tetap
berdiri, aku membungkuk
untuk melepaskan sepatu, kaos kaki dan ku cuci kedua
kakinya, aku tak mw ada
syaithan yang masuk ke dalam rumah kami, setelah itu aku
pun berdiri
langsung mencium tangannya tapi apa reaksi nya …

Masya Allah ia tidak mencium keningku, ia langsung naik
keatas, ia langsung
mandi dan tidur,tanpa bertanya kabarku..

Aku hanya berpikiran, mungkin dia capek. Aku pun segera
merapikan bawaan nya
sampai aku pun tertidur. Malam menunjukkan 1/3 malam,
mengingatkan aku pada
tempat mengadu yaitu Allah, Sang Maha Pencipta.
Biasa nya kami selalu berjama’ah, tapi karena melihat nya
tidur sangat
pulas, aku tak tega membangun kannya, aku helus mukanya,
aku cium kening
nya, lalu aku sholat tahajud 8 rakaat plus witir 3
raka’at.

************ ********* ********* ********* *********
********* *********
********* ********* ***

Aku mendengar suara mobinya, aku terbangun lalu aku liat
dia dari balkon
kamar kami dia bersiap – siap untuk pergi, aku memanggil
nya tapi ia tak
mendengar, lalu aku langsung ambil jilbabku, aku lari dari
atas ke bawah
tanpa memperdulikan darah yg bercecer dari rahimku, aku
mengejarnya tapi ia
begitu cepat pergi,,ada apa dengan suamiku…mengapa ia
sangat aneh
terhadapku ?

Aku tidak bisa diam begitu saja firasatku ada sesuatu.
Saat itu juga aku langsung menelpon kerumah mertuaku,
kebetulan Dian yang
angkat telpon nya, aku bercerita dan aku bertanya apa yang
terjadi dengan
suamiku. Dengan enteng ia menjawab “Loe pikir aja sendiri
!!!” telpon pun
langsung terputus.

Ada apa ini ? Tanya hatiku penuh dalam kecemasan. Mengapa
suamiku berubah
setelah ia pulang dari kota kelahirannya. Mengapa ia tak
mau berbicara
padaku, apalagi memanjakan ku.

Semakin hari ia menjadi orang yang pendiam, seakan ia telah
melepas tanggung
jawabnya sebagai seorang suami, kami berbicara seperlunya
saja, aku selalu
di introgasinya, aku dari mana dan mengapa pulang
terlambat, ia bertanya
denagn nada yg keras, suamiku telah berubah.

Bahkan yang membuat ku kaget, aku pernah di tuduh nya
berzina dengan mantan
pacarku. Ingin rasanya aku menampar suamiku yang telah
menuduhku serendah
itu, tapi aku selalu ingat, sebagaimana pun salahnya
seorang suami, status
suami tetap di atas para istri, itu yang aku pegang, aku
hanya berdo’a agar
suamiku sadar akan prilakunya. *******

2 Tahun berlalu, suamiku tak berubah juga, aku menangis
tiap malam, lelah
menanti seperti ini, kami seperti orang asing yang baru
saja kenal,
kemesraan yang kami ciptakan dulu telah sirna, walaupun
kondisinya tetap
seperti itu, aku tetap merawatnya & menyiapi segala
yang ia perlukan.
Penyakitku pun masih aku simpan dengan baik dan ia tak
pernah bertanya obat
apa yang aku minum. Kebahagiaan ku telah sirna, harapan
menjadi ibu pun
telah aku pendam. Aku tak tahu kapan ini semua akan
berakhir.

Bersyukurlah, aku punya penghasilan sendiri dari
aktifitasku sebagai seorang
guru ngaji jadi aku tak perlu repot – repot meminta uang
pada nya hanya
untuk pengobatan kankerku. Aku pun hanya berobat
semampuku.

Sungguh suami yang dulu aku puja, aku banggakan sekarang
telah menjadi orang
asing, setiap aku tanya ia selalu meyuruhku untuk berpikir
sendiri.
Tiba – tiba saja malam itu, setelah makan malam selesai,
suamiku
memanggilku.

“ya ada apa Yah !” sahutku dengan memanggil nama
kesayangannya “Ayah”

“Lusa kita siap – siap ke Sabang ya !” Jawabnya tegas

“Ada apa ?” Mengapa ?” sahutku penuh dengan keheranan

Astaghfirullah. ..suami ku yang dulu lembut menjadi kasar,
diya mebentakku,,
tak ada lagi diskusi anatara kami.

Dia mengatakan ” Kau ikut saja jgn byk tanya !!! ”

Aku pun lalu mengemasi barang – barang yang akan dibawa ke
Sabang sambil
menangis,sedih karena suamiku yang tak ku kenal lagi.

2 Tahun pacaran, 5 tahun kami menikah dan sudah 2 tahun
pula ia menjadi
orang asing buat ku. Ku lihat kamar kami yg dulu hangat
penuh cinta yang
dihiasi foto pernikahan kami sekarang menjadi dingin,
sangat dingin dari
batu es. Aku menangis dengan kebingungan ini. Ingin rasanya
aku berontak
tapi aku tak bisa, suamiku tak suka dengan wanita yang
kasar, ngomong dengan
nada tinggi, suka membanting barang – barang, dia bilang
perbuatan itu
menunjukkan ketidakhormatan kedapanya. Aku hanya bisa
bersabar menantinya
bicara dan sabar mengobati penyakitku ini sendiri.
************ ********* ********* ********* *********
********* *********
********* ********* ********* *********

Kami telah sampai di Sabang, aku masih merasa lelah karena
semalaman aku
tidak tidur, karena terus berpikir. Keluarga besar nya
telah berkumpul
disana, termasuk ibu & adik – adiknya, aku tidak tahu
ada acara apa ini..
Aku dan suamiku pun masuk ke kamar kami. Suamiku tak betah
didalam kamar tua
itu, ia pun keluar bergabung dengan keluarga besarnya.

Baru saja aku membongkar koper kami dan ingin memasukkannya
ke dlm lemari
tua yg berada di dekat pintu kamar, lemari tua itu telah
ada sebelum suamiku
lahir.
Tiba – tiba Tante Lia, tante yang sangat baik pada ku
memanggil ku untuk
segera berkumpul diruang tangah, aku pun ke ruang keluarga
yag berada di
tengah rumah besar itu, rumah zaman peninggalan belanda
diaman langit -
langit nya lebih dari 4 meter. aku duduk disamping suamiku,
suamiku menunduk
penuh dengan kebisuan, aku tak berani bertanya pada nya,
tiba – tiba saja
neneknya, orang yang dianggap paling tua dan paling berhak
atas semuanya
membuka pembicaraan.

“Baiklah,karena kalian telah berkumpul, nenek ingin bicara
dengan kau Fisha
! ” Nenek nya bicara sangat tegas.. Dengan sorot mata yang
tajam.
” Ada apa ya Nek ?” sahutku dengan penuh tanya..
Nenek pun menjawab ” Kau telah gabung dengan keluarga kami
hampir 8 tahun,
sampai saat ini kami tak melihat tanda – tanda kehamilan
yang sempurna,
sebab selama ini kau selalu keguguran !!’

Aku menangis, untuk inikah aku diundang ke mari, untuk
dihina atau di
pisahkan dengan suamiku.

“Sebenarnya kami sudah punya calon untuk Fikri, dari dulu,
sebelum kau
menikah dengannya, tapi Fikri anak yang keras kepala, tak
mau di atur, dan
akhirnya menikahlah ia dengaa kau.” Neneknya berbicara
sangat lantang,
mungkin logat orang Sabang seperti itu semua.

Aku hanya bisa tersenyum dan melihat wajah suamiku yang
kosong matanya.
“Dan aku dengar dari ibu mertua mu kau pun sudah berkenalan
dengannya”
Neneknya masih melanjutkan pembicaraan itu.

Sedangkan suamikku hanya diam saja, tapi aku lihat air
matanya. Ingin aku
peluk suamiku agar ia kuat dengan semua ini, tapi aku tak
punya keberanian.

Nenek nya masih saja berbicara panjang lebar dan yang
terakhir dari
pembicaraannya ialah dengan wajah yang sangat menantang ia
berkata ” kau mau
nya gimana ? kau di madu atau diceraikan ?”

Masya Allah…… kuat kan hati ini, aku ingin jatuh
pingsan, hati ini
seakan remuk mendengar nya, hancur hati ku, mengapa
keluarganya bersikap
seperti ini terhadapku..

Aku selalu munutupi masalah ini dari kedua orang tuaku yang
tinggal di pulau
kayu tersebut, mereka mengira aku sangat bahagia 2 tahun
belakangan ini.

“Fish, jawab !! ” Dengan tegas Ibunya langsung memintaku
untuk menjawab

Aku langsung memegang tangan suamiku, dengan tangan yang
dingin dan gemetar
aku menjawab dengan tegas……. ..
” Walaupun aku tidak bisa berdiskusi dulu dengan imamku,
tapi aku dapat
berdiskusi dengannya melalui bathiniah, untuk kebaikan dan
masa depan
keluarga ini, aku akan menyambut baik seorang wanita baru
dirumah kami.”

Itu yang aku jawab, dengan kata lain aku rela cinta ku di
bagi, pada saat
itu juga suami ku memandangku dengan tetesan air mata, tapi
mata ku tak
sedikit pun menetes di hadapan mereka.
Aku lalu bertanya kepada suami ku, “Ayah siapakah yang akan
menjadi sahabat
ku dirumah kita nanti Yah ? ”

Suamiku menjawab ” Dia Desi ! ”

Aku pun langsung menarik napas dan langsung berbicara ”
Kapan pernikahan nya
berlangsung ? Apa yang harus saya siapkan dalam pernikahan
ini Nek ?”

Ayah mertuaku menjawab “Pernikahannya 2 minggu lagi.”

” Baiklah kalo begitu saya akan menelpon pembantu di rumah,
untuk menyuruh
nya mengurus KK kami ke kelurahan besok” setelah berbicara
seperti itu aku
permisi untuk pamit ke kamar.

Tak tahan lagi, air mata ini akan turun, aku berjalan
sangat cepat, aku buka
pintu kamar, aku langsung duduk di tempat tidur. Ingin
berteriak, tapi aku
sendiri disini. Tak kuat rasanya menerima hal ini, cintaku
telah
dibagi,,sakit. ..diiringi akutnya penyakitku. Apakah karena
ini suamiku
menjadi orang yang asing selama 2 tahun belakangan ini ?

Aku berjalan menuju ke meja rias, ku buka jilbabku, aku
bercermin sudah
tidak cantikkah aku ini, ku ambil sisirku, aku menyisiri
rambutku yang
setiap hari rontok, ku lihat wajahku,,ternyata aku memang
sudah tidak cantik
lagi, rambutku sudah hampir habis, kepalaku sudah botak
dibagian tengahnya.

Tiba – tiba pintu kamar ini terbuka, ternyata suami ku
datang, ia berdiri
dibelakangku, ,tak kuhapus air mata ini aku langsung
memandangnya dari
cermin meja rias itu.

Kami diam sejenak, lalu aku mulai pembicaraan “terimah
kasih ayah, kamu
memberi sahabat kepada ku, jadi aku tak perlu sedih lagi
saat ditinggal
pergi kamu nanti ! iya kan ?”

Suami ku mengangguk sambil melihat kepalaku tapi tak
sedikitpun ia tersenyum
dan bertanya knp rambutku rontok, dia hanya mengatakan
jangan salah memakai
shampo, dalam hati ku mengapa ia sangat cuek ? ia sudah tak
memanjakan ku
lagi.. Lalu dia bilang bilang “sudah malam, kita istirahat
yuk ” !

“Aku sholat isya dulu baru aku tidur” jawab ku tenaang.

Dalam sholat, dalam tidur aku menangis, ku hitung waktu,
kapan aku akan
berbagi suami dengannya. Aku pun ikut sibuk mengurusi
pernikahan suamiku.
Aku tak tahu kalo Desi orang Sabang juga. Sudahlah ini
mungkin takdirku. Aku
ingin suamiku kembali seperti dulu, yang sangat memanjakan
aku, diamana rasa
sayang dan cintanya itu.

************ ********* ********* ********* *********
********* *********
***

Malam sebelum hari pernikahan suamiku, aku menulis curahan
hatiku di
laptopku.

Di laptop aku menulis saat – saat terakhirku melihat
suamiku, aku marah pada
suamiku yang telah menelantarkanku. Aku menangis melihat
suamiku yang tidur
pulas, apa salahku sampai ia berlaku kejam kepada ku. Aku
save di my
document yang bertitle “Aku mencintaimu Suamiku ”

Hari pernikahan telah tiba, aku telah siap, tapi aku tak
sanggup untuk
keluar, aku berdiri didekat jendela, aku melihat matahari,
mungkin aku
takkan bisa melihat sinarnya lagi. Aku berdiri sangat
lama,, lalu suamiku
yang telah siap dengan pakaian pengantinnya masuk dan
berbicara padaku.

“Apakah kamu sudah siap ?”

Kuhapus airmata yang menetes diwajahku sambil berkata :

“Nanti jika ia telah sah jadi istrimu, ketika kamu membawa
ia masuk ke
dalam rumah ini, cucilah kaki nya sebagaimana kamu mencuci
kaki ku dulu,
lalu ketika kalian masuk ke dalam kamar pengantin bacakan
do’a di ubun -
ubunya sebagaimana yang kamu lakukan pada ku dulu lalu
setelah itu…..” tak
sanggup aku ingin meneruskan pembicaraan ini, aku ingin
menagis meledak

Tiba – tiba suamiku menjawab “lalu apa Bunda ?”

Aku kaget mendengar kata itu, yang tadinya aku menunduk,aku
langsung
menatapnya dengan mata yang berbinar – binar…

“bisa kamu ulangi apa yang kamu ucapkan barusan ?” pinta ku
tuk menyakini
bahwa kuping ini tidak salah mendengar.

Dia mengangguk dan berkata ” Baik bunda akan ayah ulangi,
lalu apa bunda ?”
sambil ia menghelus wajah dan menghapus airmataku, dia agak
sidikit
membungkuk karena diya sangat tinggi, aku hanya sedada nya
saja.

Dia tersenyum, sambil berkata ” Kita liat saja nanti ya !”
dia memelukku dan
berkata, “bunda adalah wanita yang paling kuat yang ayah
temui selain mama”
lalu ia mencium keningku, aku langsung memeluk nya erat dan
berkata ” Ayah,
apakah ini akan segera berakhir ? Ayah kemana saja ?
Mengapa ayah berubah ?
Aku kangen sama ayah ? Aku kangen belaian kasih sayang ayah
? Aku kangen
dengan manjanya ayah ? Aku kesepian ayah ? Dan satu hal
lagi yang harus ayah
tau bahwa aku tidak pernah berzinah ! Dulu waktu awal kita
pacaran,aku
memang belum bisa melupakannya, setelah 4 bulan bersama
ayah baru bisa aku
terima, jika yang dihadapanku itu adalah lelaki yang aku
cari.” Bukan bearti
aku pernah berzina ayah. Aku langsung bersujud di kakinya
dan muncium kaki
imamku sambil berkata ” Aku minta maaf ayah telah membuatmu
susah”

Saat itu juga, diangkatnya badanku,ia hanya menangis.

Ia memelukku sangat lama, 2 tahun aku menanti dirinya
kembali.
Tiba – tiba perutku sakit, ia menyadari bahwa ada yang
tidak beres dengan
ku, dan ia bertanya ” bunda baik – baik saja kan” tanya nya
dengan penuh
khawatir.

“aku pun menjawab, bisa memeluk dan melihat kamu kembali
seperti dulu itu
sudah mebuatku baik Yah” aku tak bisa bicara sekarang.
Karena dia akan
menikah. Aku tak mau buat diya khawatir. Dia harus khusyu
menjalani acara
prosesi akad nikah tersebut.

************ ********* ********* ********* *********
********* *********
********* ********* *

Setelah tiba dimasjid, ijab qabul pun dimulai. Aku duduk di
sebrang
suamiku.

Aku melihat suamiku duduk berdampingan dengan perempuan itu
membuat hati ini
cemburu, ingin berteriak mengatakn “Ayah Jangan” tapi aku
ingat akan kondisi
ku.

Jantung ini berdebar kencang, ketika mendengar ijab qabul
tersebut. Begitu
ijab qabul selesai, aku menarik napas panjang, Tante Lia,
tante yang baik
itu, memelukku. Dalam hati aku berusaha untuk menguatkan
hati ini, ya,,aku
kuat.

Tak sanggup aku melihat mereka duduk bersanding di
pelaminan. Orang – orang
yang hadir di acara resepsi itu iba melihatku, mereka
melihatku sangat aneh,
wajahku yang selalu tersenyum tapi hatiku menangis.

Sampai dirumah, suamiku langsung masuk ke dalam rumah
begitu saja, tak
mencuci kaki nya. Aku sangat heran dengan prilaku nya. Apa
iya, dia tidak
suka dengan pernikahan ini ?

Sementara itu Desi sambut hangat di dalam keluarga su


Sementara itu Desi sambut hangat di dalam keluarga
suamiku,tak seperti aku
yang di musuhinya.

Malam ini aku tak bisa tidur, bagaimana bisa !! Suamiku
akan tidur dengan
perempuan yang sangat aku cemburui. Aku tak tau apa yang
mereka lakukan
didalam.

1/3 malam, pada saat aku ingin sholat lail aku keluar untuk
berwudhu, aku
melihat ada lelaki yang mirip suamiku tidur disofa ruang
tengah, ku dekati
lalu ku lihat…. Masya Allah, suamiku tak tidur
dengannya,ia tidur disofa,
aku duduk disofa itu sambil menghelus mukanya yang lelah,
tiba – tiba ia
memegang tangan kiriku, tentu saja aku kaget.

“kamu datang ke sini, aku pun tau ” ia langsung berkata
seperti itu, aku
tersenyum dan megajaknya sholat lail. Setelah sholat lail,
ia mengatakan
“maafkan aku, aku tak boleh menyakitimu, kamu menderita
karena ego nya aku.
Besok kita pulang ke Jakarta, biar Desi pulang denagn
mama,papa Dan juga
adik – adikku”

Aku menatapnya dengan penuh keheranan. Tapi ia langsung
mengajakku untuk
istirahat. Saat tidur ia memelukku sangat erat. Aku
tersenyum saja, sudah
lama ini tidak terjadi. Ya Allah, apakah Engkau akan
menyuruh malaikat maut
untuk mengambil nyawaku sekarang ini, aku telah meresakan
kehadirannya saat
ini. Tapi masih bisakah engaku ijinkan aku untuk mersakan
kehangatan dari
suamiku yang telah hilang selama 2 tahun ini.

Suamiku berbisik, “Bunda kok kurus ?”

Aku menangis dalam kebisuan. Pelukannya masih bisa aku
rasakan.

Aku pun berkata “Ayah kenapa tidak tidur dengan Desi ?”

” Aku kangen sama kamu Bunda ” Aku tak mau menyakitimu
lagi, kamu sudah
terluka oleh sikapku yang egois” Dengan lembut suamiku
menjawab seperti
itu.

Lalu suamiku berkata, ” Bun, ayah minta maaf telah
menelantarkan bunda…
Selama ayah di Sabang, ayah dengar kalo bunda tidak tulus
mencintai ayah,
bunda seperti mengejar sesuatu, seperti harta ayah, dan
satu lagi ayah
pernah melihat sms bunda dengan mantan pacar bunda dimana
isinya klo bunda
gk mw berbuat seperti itu, dan seperti itu di beri tanda
kutip ( “seperti
itu” ), ayah ingin ngomong tapi takut bunda tersinggung,
dan ayah berpikir
klo bunda pernah tidur dengannya sebelum bunda bertemu
ayah, terus ayah
dimarahi oleh keluar ayah karena ayah terlalu memanjakan
bunda ”

Hati ini sakit ketika difitnah oleh suamiku, ketika tidak
ada kepercayaan
didirinya, hanya karena omongan keluarganya, yang tidak
pernah melihat
betapa tulusnya aku mencintai pasangan seumur hidupku ini.

Aku hanya menjawab “Aku sudah ceritakan itu kan Yah,
akutidak pernah
berzinah, dan aku mencintaimu setulus hatiku, jika aku
hanya mengejar
hartamu, mengapa kamu, banyak lelaki yang lebih mapan
darimu waktu itu Yah.
Jika aku hanya mengejar hartamu, aku tak mungkin setiap
hari menangis karena
menderita mencintaimu.

Entah aku harus bahagia atau aku harus sedih karena
sahabatku sendirian di
kamar pengantin itu. Malam itu, aku menyelesaikan masalahku
dengan suamiku
dan berusaha memaafkannya beserta sikap keluaraganya juga.
Karna aku tak mau
mati dalam hati yang penuh denagn rasa benci.

************ ********* ********* ********* *********
********* *********
********* ********* *****

Keesokan harinya….. …..

Katika aku ingin bangun untuk mengambil wudhu, kepalaku
pusing, rahimku
sakit sekali..aku pendarahan.. suamiku kaget…

Suamiku kaget bukan main, ia langsung menggendongku.

Aku pun dilarikan ke rumah sakit….

Jauh sekali aku mendengar suara zikir suamiku….

Aku merasakan tanganku basah…

Ketika kubuka mata ini, kulihat wajah suamiku penuh dengan
rasa
kekhawatiran.

Ia menggenggam tanganku dengan erat.. Dan mengatakan ”
Bunda,,Ayah minta
maaf ,,,,!!”

Berapa kali ia mengucapkan hal itu. Dalam hati ku, apa ia
tahu apa yang
terjadi padaku.

Aku berkata dengan suara yang lirih ” Yah….Bunda ingin
pulang,,bunda ingin
bertemu kedua orang tua bunda, anterin bunda kesana ya
Yah….”

“Ayah jangan berubah lagi ya !!! Janji ya Yah… !!! Bunda
sayang banget
sama Ayah ”

Tiba – tiba saja kakiku sakit sangat sakit, sakit nya
semakin keatas, kakiku
sudah tak bisa bergerak lagi, aku tak kuat lagi memegang
tangan suamiku,
kulihat wajahnya yang tampan, linangan air matanya.

Sebelum mata ini tertutup ku lafazkan kalimat syahadat dan
ditutup denagn
kalimat tahlil.

\\\\\\\\\\\\ \\\\\\\\\ \\\\\\\\\ \\\\\\\\\ \\\\\\\\\
\\\\\\\\\ \\\\\\\\\
\\\\\\\\\ \\\\\\\\\ \\\\\\\\\ \\\\\\\\\ \\\\\\\\\ \\\\\\\\\
\\\\\\\\\

Aku bahagia melihat suamiku punya pengganti diriku

Aku bahagia selalu melayaninya dalam suka dan duka,,

Menemaninya dalam ketika ia mengalami kesulitan dari kami
pacran samapai
kami menikah.

Aku bahagia bersuamikan dia. Dia adalah nafas ku.

Untuk Ibu mertuaku : “Maafkan aku telah hadir didalam
kehidupan anakmu
sampai aku hidup didalam hati anakmu, ketahuilah Ma, dari
dulu aku selalu
berdo’a agar Mama merestui hubungan kami. Mengapa engkau
fitnah diriku
didepan suamiku, apa engkau punya bukti nya Ma. Mengapa
engkau sangat
cemburu padaku Ma ? Fikri tetap milikmu Ma, aku tak pernah
menyuruhnya untuk
durhaka kepadamu, dari dulu aku selalu mengerti apa yang
kamu inginkan dari
anakmu, tapi mengapa kau benci diriku. Dengan Desi kau
sangat baik tetapi
dengan ku, menantumu kau bersikap sebaliknya.”

************ ********* ********* ********* *********
********* *********
********* ********* ********* ******

Setelah ku buka laptop,ku baca curhatan istriku

Ayah,,mengapa keluargamu sangat membenciku

Aku dihina oleh mereka ayah.

Mengapa mereka bisa baik terhadapku pada saat ada dirimu ?

Pernah suatu ketika, aku bertemu Dian di jalan, aku
menegornya karena dia
adik iparku tapi aku disambut denagn wajah ketidak
sukaannya. Sangat
terlihat Ayah.

Tapi ketika engaku bersamaku, Dian sangat baik, sangat
manis dan ia
memanggilku dengan panggilan yang sangat menghormatiku.
Mengapa seperti itu
ayah.

Aku tak bisa berbicara ttg ini padamu, karen aku tahu kamu
pasti membela
adikmu, tak ada gunanya Yah.

Aku diusir dari rumah sakit.

Aku tak boleh merawat suamiku.

Aku cemburu paad Desi yang sangat akrab dengan mertuaku

Tiap hari ia datang ke rumah sakit bersama mertuaku

Aku sangat marah….

Jika aku membicarakn hal ini pada suamiku, ia akan pasti
membela Desi dan
ibunya.

Aku tak mau sakit hati lagi.

Ya Allah kuatkan aku,,maafkan aku

Engkau Maha Adil.

Berilah keadilan ini padaku Ya Allah

Ayah sudah berubah, ayah sudah tak sayang lagi pada ku.

Aku berusaha untuk mandiri ayah, aku tak akan bermanja -
manja lagi padamu.

Aku kuat ayah dalam kesakitan ini.

Lihatlah ayah, aku kuat walaupun penyakit kanker ini terus
menyerangku.

Aku bisa melakukan ini semua sendiri ayah.

Besok suamiku akan menikah dengan perempuan itu

Perempuan yang aku benci, yang aku cemburui

Tapi aku tak boleh egois, ini untuk kebahagian keluarga
suamiku

Aku harus sadar diri

Ayah,,sebenarnya aku tak mau diduakan olehmu

Mengapa harus Desi yang menjadi sahabatku ?

Ayah aku masih tak rela

Tapi aku harus ikhlas menerimanya

Pagi nanti suamiku melangsungkan pernikahan keduanya

Semoga saja aku masih punya waktu untuk melihatnya
tersenyum untukku

Aku ingin sekali merasakan kasih sayangnya yang terakhir

Sebelum ajal ini menjemputku

Ayah…akuk kangen ayah

Dan kini aku telah membawamu ke orang tuamu Bun

Aku akan mengunjungimu sebulan sekali bersama Desi ke Pulau
Kayu ini

Aku akan selalu membawakanmu bunga mawar yang berwana pink
yang mencerminkan
keceriaan hatimu yang sakit tertusuk duri.

Bunda tetap cantik, selalu tersenyum disaat tidur.

Bunda akan selalu hidup dihati ayah.

Bunda… Desi tak sepertimu, yang tidak pernah marah…

Desi sangat berbeda denganmu, ia tak pernah membersihkan
telingaku, rambutku
tak pernah di creambathnya, kakiku pun tak pernah
dicucinya.

Ayah menyesal telah menelantarkanmu selama 2 tahun, kamu
sakit pun aku tak
perduli, dalam kesendirianmu. …

Seandainya Ayah tak menelantarkan Bunda, mungkin ayah masih
bisa tidur
dengan belaian tangan Bunda yang halus.

Sekarang Ayah sadar, bahwa ayah sangat membutuhkan bunda..

Bunda,,kamu wanita yang paling tegar yang pernah kutemui.

Aku menyesal telah asik dalam keegoanku..

Bunda maafkan aku.. Bunda tidur tetap manis. Senyum manjamu
terlihat
ditidurmu yang panjang.

Maafkan aku , tak bisa bersikap adil dan membahagiakan mu,
aku selalu
mengiyakan apa kata ibuku, karena aku takut menjadi anak
durhaka. Maafkan
aku ketika kau di fitnah oleh keluargaku, aku percaya
begitu saja.

Apakah Bunda akan mendapat pengganti ayah di surga sana ?

Apakah Bunda tetap menanti ayah disana ? Tetap setia di
alam sana ?

Tunggulah Ayah disana Bunda……

Bisakan ? Seperti Bunda menunggu ayah di sini…… Aku
mohon…..

Ayah Sayang Bunda….

0 komentar:

Poskan Komentar

 
Copyright (c) 2010 CERPEN and Powered by Blogger.